SITUBONDO - Kabupaten Situbondo, Jawa Timur memiliki tiga situs purbakala dari era nirleka yang menjadi bidikan Tim Balai Arkeologi (Balar) Jogja bersama Tim Cagar Budaya Yayasan Museum Balumbung Situbondo (TCB-YMBS).
Sejumlah tinggalan arkeologi berupa kapak batu, kapak logam, tempayan, rangka manusia serta perhiasan logam di wilayah Kecamatan Asembagus dan Kecamatan Banyuputih disurvei pada Minggu (27/6/2021).
Cuaca yang terik di siang itu mengiringi tim survei yang dipimpin oleh arkeolog Putri Taniardi dari Balar Jogja beserta 4 anggotanya.
Mereka mendatangi Museum Balumbung yang terletak di Desa/Kecamatan Asembagus.
Para pengurus museum yang berinisiatif melaporkan potensi kecagarbudayaan pada Kecamatan Asembagus dan Kecamatan Banyuputih.
Mereka kini menyambut kedatangan para arkeolog itu dengan memberikan gambaran sekelumit koleksi museum, di antaranya yang berkorelasi dengan lini masa prasejarah atau era nirleka, masa sebelum manusia mengenal tulisan.
"Ini tinggalan berupa fragmen tempayan, kapak batu, fragmen perhiasan berbahan kerang dan diduga tulang binatang yang kami amankan dari lokasi," ucap Ketua Umum Yayasan Museum Balumbung Situbondo Irwan Kurniadi.
Tim mendokumentasikan serta mengolah data awal tiga situs yang diperoleh pihak museum sejak September 2020 lalu.
Selang sekitar 30 menit kemudian, tim bergerak menuju dua titik situs di Kecamatan Banyuputih. Pada dua titik situs tersebut, sejumlah fragmen tempayan dari bahan tembikar serta sejumlah fosil kerang diidentifikasi.
"Keletakan tinggalan arkeologi di area hutan dari hasil survei permukaan tentu akan kita kaji. Juga bagaimana hubungannya dengan laporan temuan kerangka manusia serta perhiasan berbahan logam saat warga hendak membuat sumur. Dalam proses penggalian sumur sebanyak dua kali ditemukan tinggalan arkeologi itu," ujar arkeolog Putri Taniardi.
Usai dari Kecamatan Banyuputih, tim bergerak ke Desa Kertosari, Kecamatan Asembagus menuju rumah pasangan Leira- Sulakiyah yang pernah menemukan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) berupa kapak corong logam, gelang logam, tusuk konde logam serta tempayan dan kerangka manusia pada tahun 2006 silam.
Beruntung, tinggalan arkeologi yang ditemukan di perbukitan Dusun Balikeran itu masih aman dan lestari di tangan penggarap lahan yang sudah berusia lanjut itu.
"Kami tidak ingin barang (artefak, red) ini dibeli oleh orang karena ini amanat untuk dirawat," kata Leira.
Rupanya tekad Leira untuk merawat benda bersejarah itu dimotivasi oleh sebuah mimpi yang dialami bersama istrinya, Sulakiyah.
"Pada intinya, saya disuruh membangun rumah di tempat saya dan istri nemu benda itu, ya saya jual sapi dan bangun cungkup (atap,red) di tempat temuan, sekaligus menguburkan kembali tulang belulang manusia yang ada dalam tempayan," terang Leira.
Tim Balar Jogja sendiri masih belum menyimpulkan tentang temuan-temuan tersebut.
Namun dapat dipastikan, tahapan lanjutan atas penelitian kepurbakalaan khususnya era nirleka di Kabupaten Situbondo sudah teragendakan. (andiy/amj)
| Pewarta | : Andy Yuwono |
| Editor | : Eki Adi Nugraha |
Komentar & Reaksi