SIBER JATIM - Kejadian yang melibatkan kapal curah asal China, Yi Peng 3, di Laut Baltik pada November 2024 memicu ketegangan di antara negara-negara Eropa. Kapal tersebut diduga terlibat dalam pemutusan dua kabel serat optik bawah laut yang menghubungkan beberapa negara Eropa, termasuk Finlandia, Jerman, Swedia, dan Lithuania.
Insiden ini menimbulkan kekhawatiran besar tentang potensi ancaman terhadap infrastruktur dasar laut yang sangat penting bagi konektivitas global.
Pada awal minggu November 2024, laporan menyebutkan bahwa dua kabel serat optik terputus di dasar Laut Baltik, yang digunakan untuk menghubungkan beberapa negara Eropa untuk tujuan komunikasi dan pengiriman data.
Pemerintah Jerman segera mengonfirmasi bahwa kerusakan ini bukan disebabkan oleh kecelakaan biasa, melainkan merupakan tindakan sabotase yang terencana.
Penyelidikan pun mengarah pada kapal Yi Peng 3, sebuah kapal curah asal China, yang saat itu berlabuh di dekat wilayah Denmark. Kapal tersebut telah terpantau bergerak melalui Laut Baltik dan berada di lokasi yang sangat dekat dengan kabel yang terputus.
Meskipun tidak ada bukti langsung yang mengaitkan kapal ini dengan pemutusan kabel, banyak pihak menduga bahwa insiden ini merupakan bagian dari strategi "perang hibrida", yang kini semakin umum dalam geopolitik global.
Pemutusan kabel serat optik bawah laut tidak hanya mengganggu aliran data antarnegara tetapi juga dapat menimbulkan gangguan besar bagi sektor ekonomi dan pertahanan. Kabel ini berfungsi sebagai saluran utama untuk komunikasi internasional, transaksi finansial, dan transfer data sensitif lainnya.
Kerusakan atau pemutusan kabel dapat menyebabkan penurunan kecepatan internet global, dan bahkan menghentikan layanan tertentu yang bergantung pada sambungan data antarnegara.
Di sisi lain, tindakan ini juga dapat dilihat sebagai bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas. Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah melihat beberapa insiden yang melibatkan kerusakan terhadap infrastruktur energi dan komunikasi di Laut Baltik.
Salah satu insiden besar sebelumnya adalah kerusakan pada pipa gas Balticconnector yang menghubungkan Estonia dan Finlandia pada Oktober 2023. Negara-negara Eropa, khususnya negara-negara Baltik, telah semakin khawatir dengan keberadaan kapal-kapal yang diduga terlibat dalam sabotase terhadap infrastruktur strategis.
Pemerintah Jerman, bersama dengan negara-negara sekutu di Eropa, menanggapi insiden ini dengan serius. Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menyatakan bahwa kerusakan pada kabel serat optik ini jelas merupakan hasil dari tindakan sabotase dan harus ditangani dengan penuh kehati-hatian.
Dalam pernyataannya, Pistorius menekankan bahwa tindakan seperti ini berpotensi mengganggu stabilitas kawasan dan mengancam infrastruktur internasional.
Sementara itu, pihak China membantah keterlibatan kapal Yi Peng 3 dalam pemutusan kabel tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Li Jiang, mengatakan bahwa mereka tidak memiliki informasi mengenai kapal tersebut dan menegaskan bahwa China siap untuk menjaga komunikasi dengan negara-negara terkait guna melindungi hak kapal-kapal China untuk berlayar secara normal di perairan internasional.
Ke depan, insiden ini menunjukkan perlunya negara-negara Eropa untuk lebih serius dalam menjaga keamanan infrastruktur dasar laut mereka. Pemerintah Eropa kini semakin sadar akan ancaman yang mungkin timbul dari operasi-operasi yang tidak terlihat, yang dapat merusak saluran komunikasi internasional dan merugikan sektor ekonomi global.
Oleh karena itu, kolaborasi antarnegara dalam meningkatkan pengawasan dan keamanan di perairan internasional menjadi semakin krusial.
| Pewarta | : Damanhuri Jab |
| Editor | : Junaidi |
Komentar & Reaksi