SIBER JATIM

15 Persen Siswa di Bondowoso Berhenti Sekolah Selama Pandemi

Bahrullah - 18 August 2021 | 21:08
Pendidikan 15 Persen Siswa di Bondowoso Berhenti Sekolah Selama Pandemi

BONDOWOSO - Pandemi Covid-19 berpengaruh pada dunia pendidikan di Kabupaten Bondowoso. Bahkan, disebutkan bahwa 10-15 persen siswa dan calon siswa berhenti sekolah selama pandemi.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bondowoso Sugiono Eksantoso kepada siberjatim.com, Rabu (18/8/2021).

"Karena PTM (Pembelajaran Tatap Muka) tidak segera direalisasikan, banyak yang berhenti sekolah dan beralih mondok (belajar di pondok pesantren)," ungkapnya.

Itu yang menjadi salah satu pertimbangan pihaknya menerapkan PTM terbatas perdana di masa pandemi ini sejak Rabu (18/8/2021).

"Kita sudah dua tahun tidak ada PTM. Sedangkan pondok pesantren sudah mulai pembelajaran duluan. Pondokan full sekarang, sedangkan sekolah 2 tahun kosong," paparnya.

Sugiono menyebut, data angka putus sekolah di Kabupaten Bondowoso sekitar 10-15 persen. Menurutnya, angka itu berpeluang bertambah jika PTM terus diundur.

"Data yang kami himpun dari para kepala sekolah itu ada1-2 anak per lembaga yang berhenti dan dipondokkan sama orang tuanya. Kalau akumulatif angkanya bisa 10-15 persen," sebutnya.

Ia mengakui bahwa pembelajaran dalam jaringan (daring) tidak bisa semuanya diterapkan dengan lancar. Justru banyak keluhan dari orang tua siswa.

"Lancar bagi wali murid yang punya basic pendidik, tapi yang kerja di sawah dan mereka yang tinggal di pelosok bagaimana? Karena gak mau ruwet, mereka memilih memondokkan anaknya daripada sibuk mengajar di rumah," bebernya.

Oleh karenanya, Disdikbud Kabupaten Bondowoso enggan fenomena tersebut terus berlanjut. Kendati demikian, pihaknya tidak memaksakan secara frontal, tetap mempertimbangkan aspek kesehatan dan keselamatan.

"Kalau disuruh memilih, saya lebih memilih siswa bodoh tapi hidup, daripada pinter tapi mati. Tapi kita ubah pelan-pelan. Apalagi tren Covid di Bondowoso mulai landai," tuturnya.

Disdikbud Kabupaten Bondowoso sejak Rabu (18/8/2021) memutuskan untuk menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. 

Dari sekitar 700 lembaga pendidikan SD-SMP, 30 persen di antaranya menjadi pilot projects.

"Kita terapkan bertahap sesuai hasil monitoring dan evaluasi selama sepekan ke depan. Jika sukses, maka tambah 25 persen dan bertahap sampai 100 persen," kata Sugiono.

PTM terbatas itu maksimal dengan 50 persen jumlah siswa dan setiap lembaga pendidikan wajib menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung protokol kesehatan.

"Pembelajaran maksimal 2 jam atau setiap mapel (mata pelajaran) selama 30 menit. Tidak ada istirahat, olahraga dan sholat berjamaah di sekolah," sebut Kepala Disdikbud. (amj)

Pewarta : Bahrullah
Editor : Deni Ahmad

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya